Marah dan Menyakiti Hati Orang Lain Saat Puasa

Pertanyaan

Assalamu’alaikum. Mas, mau tanya. Kalau kita sedang berpuasa kan boleh marah. Lha kalau marah kan menggugurkan pahala. Terus, bagaimana hukumnya jika kita menyakiti hati seseorang karena kata-kata kita, tetapi kita tidak tahu kata-kata kita telah menyakitinya.
Wassalam...
(Rizqi: 085643872XXX)



Jawaban
Ada dua poin yang bisa kita urai dari pertanyaan Mas Rizqi.

1.    Benarkah marah pasti menggugurkan pahala puasa?
2.   Tidak tahu atau tidak sadar ternyata kata-kata kita telah menyakiti orang lain, bagaimana hukumnya?

Pertanyaan pertama, benarkah marah pasti menggugurkan pahala puasa?

Hakikatnya, puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Akan tetapi, lebih dari itu juga mengajak kita agar menahan dari dari rafats (ucapan kotor) dan lahw (melakukan perbuatan sia-sia). Pada momentum inilah kesabaran kita semakin diuji.[1]

Marah merupakan satu dari sekian banyak ucapan dan perbuatan yang layak kita hindari pada bulan suci ini, sebagaimana sabda Nabi Saw,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari)[2]

Hadits di atas mengajarkan kepada kita supaya bersabar dan menjauhkan diri kemarahan. Apakah puasa akan batal karena marah? Tidak, puasa tidak batal disebabkan oleh marah. Akan tetapi, pahala berpuasa kita bisa atau berpotensi terkurangi atau bahkan hilang karena marah. Allah –sebagai pemilik hak prerogatif– yang berhak dan lebih tahu bagaimana akan memvonis kemarahan kita, apakah pahala kita akan Dia kurangi atau bahkan dihapuskan secara total.

Walaupun demikian, tidak semua kemarahan itu dilarang. Ada kemarahan yang justru wajib kita luapkan, misalnya ketika ada orang yang menghina Islam, istri/suami kita tidak pernah mau shalat dan puasa, dan sebagainya. Awalnya kita ingatkan dengan baik-baik, jika masih ngeyel barulah kita tegas (marah) kepadanya. Kemarahan seperti inilah yang dibolehkan, bahkan wajib dilakukan.

Pertanyaan kedua, tidak tahu atau tidak sadar ternyata kata-kata kita telah menyakiti orang lain, bagaimana hukumnya?

Pepatah Arab mengatakan,

سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ

Keselamatan manusia itu bergantung pada kepandaiannya menjaga lisan.

Dalam hadits Nabi Saw juga disabdakan,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah perkataan yang baik, atau (jika tidak) maka diamlah.” [3]

Karena itulah anugerah Allah berupa lisan ini harus benar-benar kita jaga agar senantiasa berucap yang baik.

Bagaimana jika sudah berusaha menjaganya, tetapi ternyata orang lain tetap merasa tersakiti oleh ucapan kita, padahal sama sekali kita tidak berniat menyakitinya?

Dari Ibnu Abbas, diceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,


إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ


“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaafkan umatku karenaku: kesalahan (yang tanpa disengaja), (kesalahan karena) lupa, dan kesalahan yang terjadi karena kondisi terpaksa.”

Jadi, apa yang terjadi dengan Anda sebetulnya termasuk ketidaksengajaan, insyaAllah diampuni oleh Allah. Walaupun demikian, lebih mulia lagi jika Anda juga tidak berat hati untuk meminta maaf kepada orang yang tanpa sengaja Anda sakiti tersebut.

Wallahu a’lam





[1] Sabar, yang diserap dari bahasa Arab shabrun, pada dasarnya mengandung inti makna yang hampir sama dengan puasa (shiyah, shaum, & imsak), yakni ‘menahan diri’.
Tag : Puasa
Comments
14 Comments
14 Komentar untuk "Marah dan Menyakiti Hati Orang Lain Saat Puasa"

Minta maaf itu bisa menyembuhkan sakit hati & diampuni Allah juga ya mas :)

beberapa waktu yang lalu aku sempat marah kepada anak-anak di panti karena mereka malah maen waktu tak ajak buat kandang ayam.... astaghfirullah

Hehehe... begitulah anak2. Sama seperti anak2 saya. :)

Sepertinya banyak yang salah paham tentang apakah marah itu membatalkan puasa atau tidak. Padahal yang dimaksud membatalkan di situ, sebagaimana penjelasan sampean,adalah potensi hilang atau berkurangnya pahala karena marah.

Semoga di bulan Ramadan ini kita bisa mengendalikan diri dan menjaga amarah kita, ya, Pak.

Aamiin ya Rabbal'alamin...

Semoga Mas Lutfi juga kuat menahan ujian "perhiasan dunia" di sana. Hehe...

pembahasannya mencerahkan nih,hehe semoga kita senantiasa bisa mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak baik, sayang sekali kalau pahala puasa di kurangi karena kita tidak bisa menahan amarah :)

Iya, Mbak. Semoga kita bisa menahan emosi dan lebih sabar, ya. Aamiin :)

ust... bln puasa kmrn sy menegur pekerja bangunan yg ga pada puasa,memang sih mereka bkn kerja utk sy,tpi kan mereka ada dilingkungan sy,jdi sy merasa wajib utk mengingatkn mereka,buntutnya... skrg klo sy berpapasan mereka pada cemberut gitu,hi hi

Menasihati orang yang tidak karib dengan kita tentu berbeda cara, rasa, dan efeknya bila dibandingkan dengan menasihati orang yang karib dan biasa becanda dengan kita. :)

Pa Ustad saya mau nanya,misalnya ada oranh yang tidak berpuasa,tapi dia memarahi (memaki) orang yg sedang berpuasa,itu gmna yah??

Jika tidak ada alasan yang bisa diterima oleh syari'at Islam, maka memarahi atau memaki orang lain --yang sedang berpuasa atau tidak berpuasa-- adalah berdosa.

Back To Top