Home » , » Ketika Suami Istri Suka Bertengkar

Ketika Suami Istri Suka Bertengkar

Mengingat suami dan istri punya cara berpikir, kebiasaan, dan juga gaya komunikasi tertentu yang berbeda dengan pasangannya maka pertengkaran merupakan hal yang sangat normal dalam kehidupan pernikahan. Adanya pertengkaran juga menunjukkan bahwa proses penyesuaian diri sedang berlangsung dan masih ada komunikasi di antara suami dan istri.

Cukup banyak pasangan yang mengaku bahwa mereka bertengkar hebat hanya gara-gara hal sepele. Namun, bila pertengkaran sudah menjadi rutinitas sehari-hari, diwarnai oleh kata-kata kasar, menyebabkan macetnya komunikasi, dan berakhir dengan saling menyakiti maka sudah saatnya untuk mencari solusinya. Bila dibiarkan berlarut-larut, pertengkaran semacam ini akan menutupi rasa cinta Anda kepada pasangan dengan kemarahan, kekecewaan, dan dendam yang mendalam.

Solusi dari masalah di atas di antaranya sebagai berikut.
a.   Umumnya, pertengkaran yang sering terjadi disebabkan oleh masalah yang ‘itu-itu’ saja. Pemicunya bisa berupa hal kecil, namun inti permasalahannya tetap sama dan belum juga menemukan pemecahan. Bahkan, kadang menimbulkan perang dingin karena kedua belah pihak merasa benar dan gengsi untuk mulai berbaikan kembali. Kecuali jika pasangan Anda seorang cenayang, sulit untuk memahami perasaan dan isi pikiran Anda jika membisu. Sebaliknya, jika pasangan yang membisu, coba bujuk ia agar bicara. Anda perlu menemukan isu utama di balik masalah yang terjadi.  Sebenarnya, itu semua karena komunikasi yang kurang lancar, kurang ada keterbukaan mengenai keinginan serta batasan masing-masing. Wanita cenderung lebih sensitif dan tidak membicarakan langsung pokok masalah. Adapun pria cenderung bicara straight to the point.

      Oleh karena itu, coba gali inti masalah yang ingin Anda bahas bersama pasangan. Batasi pembicaraan hanya untuk masalah itu agar tidak berbelit-belit ketika membicarakan dan merampungkan sebuah masalah. Sebaliknya, coba dengarkan dan pahami juga pandangan pasangan Anda terhadap masalah tersebut. Jangan mempertahankan gengsi dan ego masing-masing.

b.   Salah satu kelemahan utama dari pasangan yang hobi bertengkar adalah kurangnya kesediaan untuk mendengarkan pasangan. Masing-masing lebih sibuk memikirkan apa yang akan diucapkan untuk “melawan” perkataan pasangannya. Akibatnya, suami dan istri semakin keras mengungkapkan pendapatnya  karena merasa tidak didengar. Dalam kondisi kesal dan marah, Anda mungkin cenderung melihat satu kesalahan pasangan sebagai sesuatu yang meluas, kemudian muncul ucapan-ucapan tertentu, seperti, “Suami tidak bertanggung jawab, lebih baik kita cerai saja!” Atau, “Kamu sama keras kepalanya dengan ibumu!” Ucapan-ucapan seperti itu bisa merupakan pemicu pertengkaran hebat dan bahkan kekerasan fisik.

      Bila pasangan mulai naik darah dan menyinggung kesalahan Anda pada masa lalu, sedapat mungkin hindari melakukan hal yang sama karena cara ini justru akan membesarkan api amarahnya. Abaikan saja kemarahan pasangan. Dengan bersikap tenang dan tidak berkomentar, biasanya kemarahan pasangan lebih cepat reda. Tetaplah hanya membicarakan isu yang sedang dibahas. Bila situasi sangat memanas, lebih baik Anda berdua break sejenak untuk menenangkan diri dan meneruskan pembicaraan saat Anda berdua sesudah lebih tenang.

c.   Salman Al-Farisi r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Fatimah r.ha. berkunjung kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah saw melihatnya, kedua mata Fatimah mencucurkan air mata, dan raut mukanya berubah. Nabi saw bertanya, “Mengapa engkau, wahai anakku?” Fatimah r.ha. menjawab, “Ya Rasulullah, tadi malam aku dan Ali bergurau, dan telah timbul percakapan yang menyebabkan dia marah kepadaku karena kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ketika aku melihat bahwa dia (Ali) marah, aku menyesal dan merasa susah. Aku berkata kepadanya, “Hai kekasihku, kesayanganku, relakanlah akan kesalahanku, seraya aku mengelilinginya dan merayunya sebanyak tujuh puluh dua kali sehingga dia menjadi rela dan tertawa kepadaku dengan segala kerelaannya, sedang aku tetap merasa takut kepada Tuhanku.” Rasulullah bersabda kepada Fatimah r.a., “Wahai anakku, demi Dzat yang telah mengutusku sebagai nabi dengan agama yang haq, sesungguhnya sekiranya engkau mati sebelum Ali merelakanmu maka aku tidak akan menshalati mayatmu.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai anakku, tidakkah engkau mengetahui bahwa kerelaan seorang suami itu merupakan kerelaan Allah dan kemarahan seorang suami itu merupakan murka Allah.”

d.   Banyak pasangan yang percaya bahwa pemecahan masalah harus dilakukan sampai tuntas, sebelum tidur. Jadilah mereka berdebat atau bertengkar sampai pagi. Padahal, beberapa jam kemudian mereka harus segera berangkat kerja. Bila suasana hati sudah semakin “panas”, sebaiknya hentikan dulu pembicaraan Anda dan pasangan. Tunggu beberapa waktu, atau bahkan beberapa hari untuk kemudian kembali duduk bersama dan mencoba membahas masalah ini. Pada saat seperti ini, komunikasi yang efektif dapt lebih mudah diraih dengan perasaan yang sudah “dingin”. Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kuberitahukan kepadamu, bekal istrimu di surga?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu setiap istri yang penuh kasih sayang dan banyak anak (subur) dan bila ia marah atau diganggu atau dimarahi oleh suaminya, lalu ia menyerahkan dirinya dan berkata, “Inilah tanganku terserah kepadamu, aku tidak akan dapat tidur sehingga engkau rela kepadaku.” (H.R. Thabrani)

e.   Jika marah pasangan Anda telah mereda, ajaklah ia bicara, duduklah berdua. Carilah tempat se-enjoy mungkin untuk Anda dan pasangan. Lakukan “open talk”, bicara terbuka dari hati ke hati. Bicaralah setepat dan sehati-hatinya agar tak kembali memancing konflik. Tanyakan harapan dan keinginannya, mengapa ia marah, mengapa begini, mengapa begitu. Lakukan dengan sabar dan lembut. Saat Anda open talk, jangan libatkan hati terlalu banyak. Sebab yang muncul hanyalah “pembenaran” diri dan egoisme individu yang tinggi. Apalagi dalam keadaan marah.

f.    Jika konflik telah mereda, mintalah maaf kepada pasangan. Setiap pertengkaran selalu menyisakan emosi negatif bagi kedua pasangan. Semakin sering Anda bertengkar, semakin banyaklah tumpukan “racun hati” ini. Jadi, sangat disarankan untuk saling meminta maaf setelah pertengkaran usai. Bila masih terasa sulit untuk mengomunikasikan kata maaf secara terbuka, tunjukkan melalui sikap yang manis dan tindakan yang menyenangkan pasangan sebagai simbol permintaan maaf dan usaha untuk mengembalikan kehangatan hubungan. Memang memaafkan tidak selalu mudah, tetapi banyak kebaikan yang dapat dituai bila kita mau memaafkan. Sebagai mana dicontohkan Rasulullah saw, “Memaafkan atau meminta maaf memiliki banyak kebaikan. Memaafkan merupakan sikap para penghuni surga.” Sebagaimana firman Allah, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 133-134)

g.   Jadi, tak ada ruginya memaafkan orang lain. Apalagi orang lain itu adalah belahan jiwa Anda. Ingatlah saat-saat indah Anda, saat menjemputnya ke pelaminan, saat-saat mesra bersamanya, kebaikannya, juga bakti dan kasih sayangnya. Semoga itu mampu melumerkan ketegangan yang tengah terjadi, melembutkan kemarahan di dada. Bisa juga suami mendinginkan kemarahan istri dengan mesra, seperti yang dilakukan Rasulullah. Nabi saw biasa memijit hidung Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai Aisy, bacalah doa, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (H.R. Ibnu Sunni)

h.   Seorang sahabat berkata kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi saw berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi saw tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah!” (H.R. Bukhari). Emosi itu memang harus disalurkan, namun terkadang, ada beberapa cara-cara lain yang lebih baik ketimbang menyalurkannya lewat kemarahan. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi amarah, yaitu berpindah tempat (misal dari duduk kepada berdiri), mengambil air wudhu, dan membaca ta’awudz. Menahan amarah bukanlah perkara mudah. Karenanya, Rasulullah saw berkata, “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (H.R. Muttafaq Alaihi)

Share this article :

8 komentar:

  1. Blogwalking siang.. Salam kenal ya :)

    BalasHapus
  2. waduh, ane harusnya belajar dari ini semua gan. sayang ane belum bisa mempraktekan, karena belum punya bini. yang no 4 mungkin bisa di pandang sebelah mata, apalagi yang tidak mamahami islam secara menyeluruh. diangap bahwa suami sok berkusa. padahal kan islam ituadalah agama sempurna yang menciptakan hirarki, si ibu (istri) harus patuh kepada suami, sedangkan suami harus patuh kepada ibunya (yang mana ia adalaha perempuan) jadi bukan berarti perempuan kalah di banding lelaki. ada masa dan saatnya, itu saja yang saya tau.
    makasih ilmunya gan, ane ntar camkan. supaya bisa di praktekkan

    BalasHapus
  3. wah jadi berumah tangga itu juga sering berantem ya

    BalasHapus
  4. Kunjungan dini hari mas
    wah tipsnya menarik
    bekali untuk saya nanti kalau sudah berkeluarga
    semoga nanti saya tidak tengkar terus sama suami saya
    amiin

    BalasHapus
  5. @Elfrida Chania teria kasih sudah berkenan mampir. Salam kenal juga. salam persaudaraan

    BalasHapus
  6. @cerita anak kost Semoga dimudahan oleh Allah untuk bertemu jodoh yang baik dan membahagiakan hati dunia akhirat. Dengan begitu kan tulisan ini bisa dipraktikkan. hehe

    BalasHapus
  7. @rizaaal Bukan sering berantem Mas Rizal, tetapi memang ada kalanya suami dan istri sesekali terlibat perbedaan pandangan hingga berujung "percekcokan" kecil. Nah, yg bahaya itu kalo keseringan. Bisa fatal nanti...

    BalasHapus
  8. @rizki_ris Semoga kelak bahagia selalu bersama suami. Bisa menyelesaikan semua problem rumah tangga secara arif dan bijaksana demi keutuhan hidup bersama. amin

    BalasHapus

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis
Copyright © 2011. Ruang Ukhuwah - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger