Cerita Si Ego dan Pak Bijak

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang sangat egois. Orang-orang memanggilnya Ego. Dia juga sangat pelit dan tamak. Dia tidak pernah mau berbagi dengan siapa pun, bahkan dengan teman-temannya sendiri maupun orang-orang miskin.
Suatu hari, si Ego kehilangan 30 koin uang emas. Lalu, dia pergi ke rumah seorang teman, dan menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan koin emas. Temannya bernama Pak Bijak. Ia adalah seorang bapak yang bijak dan jujur.
Ketika si Ego dan Pak Bijak bercakap-cakap, datanglah putri Pak Bijak dari pasar. Putri Pak Bijak bercerita bahwa dia menemukan 30 koin emas di jalan. Pak Bijak menjelaskan bahwa koin emas itu milik temannya, si Ego.
Pak Bijak pun mengembalikan uang tersebut kepada si Ego. Si Ego lalu menghitung jumlah koin yang dia terima.
“Ini masih kurang 10 koin lagi. Sebetulnya, koin emasku yang hilang seluruhnya ada 40,” ujar si Ego, setelah menghitung koin yang ia terima.
“Bukankah kamu tadi mengatakan koinmu yang hilang adalah 30?” tanya Pak Bijak.
“Tidak. Putrimu pasti telah mengambil 10 koinku,” lanjut si Ego.
Pak Bijak diam saja dan tidak mau berbantah-bantahan dengan Ego. Si Ego terus memaksa Pak Bijak agar mengganti kekurangannya. Tetapi, Pak Bijak menolak. Si Ego marah dan bergegas mengadukan Pak Bijak ke pengadilan.
Menindaklanjuti pengaduan tersebut, Hakim Pengadilan segera memanggil Pak Bijak dan putrinya.
“Berapa jumlah koin emas yang kamu temukan?” tanya Hakim Pengadilan pada Putri Pak Bijak.
“Tiga puluh koin, Pak Hakim,” jawab Putri Pak Bijak.
Pak Hakim ganti bertanya kepada si Ego, “Berapa jumlah koin emasmu yang hilang?”
Si Ego menjawab, “Empat puluh koin, Pak Hakim.”
Pak Hakim lalu memutuskan bahwa si Ego tidak berhak atas koin emas itu. Sebab, koin yang ditemukan Putri Pak Bijak adalah 30, sementara si Ego mengaku koinnya yang hilang adalah 40.
Akhirnya, Pak Hakim memerintahkan agar Putri Pak Bijak membawa pulang 30 koin emas yang dia temukan. Pak Hakim akan memanggilnya kembali jika kelak ada orang yang merasa kehilangan koin sejumlah 30 tersebut.
Kepada si Ego, Pak Hakim berkata, “Pulanglah kamu! Jika kelak ada laporan seseorang menemukan 40 koin emas milikmu, maka aku akan menyuruh si penemu itu datang ke rumahmu.”
Tiba-tiba, si Ego bersumpah bahwa sebenarnya dia berdusta tentang jumlah koin itu. Dia mengaku bahwa 30 koin emas itu adalah miliknya. Namun, hakim pengadilan tidak lagi memedulikannya. Sehingga, 30 koin emas itu kini menjadi milik Putri Pak Bijak.

~*~
Cerita ini mengajarkan kepada kita agar selalu jujur. Sebab, ketidakjujuran hanya akan membuat kita sengsara. Sedangkan kejujuran akan selalu berbuah keberuntungan dan kebahagiaan.

gambar: dianeducationcenter.blogspot.com
Tag : Hikmah
Comments
10 Comments
10 Komentar untuk "Cerita Si Ego dan Pak Bijak"

Kejujuran adalah kunci keberhasilan dalam segala bidang. Mari kita tingkatkan kejujuran kita. Senantiasa berlatih untuk jujur pada diri kita sendiri dan juga orang lain. Dan Paling utama jujurlah pada ALLAH SWT.

saya jadi teringat dulu kala tsanawiyah membaca kata mutiara "kejujuran adalah mata uang yang berlaku di semua negara"; kata mutiara itu masih ingat terus sampai sekarang....

weh, cerita yang bagus nih. . . Jujur untung, ego buntung. :D


#SALAMkenal.
silakan difollow, pasti saya followback

Ketidak jujuran yang merugikan diri sendiri ya mas...
Kapok ndak ya itu si Ego nya??
Niat cari untung malah buntung,akibat keserakahan sih.

Assalamu'alaykum..cerita yang sarat penuh pesan yang bijak agar kita berlaku jujur..^^. Slam kenal & silaturahim mas...ijin follow blog anda..kunjungi blog saya jg ya.. Syukron ^^

@sweethy Benar sekali, Mbak. Jujur adalah modal serta pondasi kita meraih kesuksesan, dunia maupun akhirat. Makasih dah berkenan mampir

@Akhmad Muhaimin Azzet Makasih... makasiiiihh banget... Senang sekali aku dapat tambahan ilmu berupa kata mutiara yg sungguh bermakna itu.

@just copy and leave it !!! makasih dah menyemparkan diri berkunjung kemari ... salam kenal dan persaudaraan. Aku suka blog Anda yg sarat ilmu IT.

@de hoppus Bener banget mas, keserakahan pasti akan berujung pada kerugian. Moga jadi bahan renungan dan pengingat kita semua ya mas.

@Fitrianto Wa'alaikumussalam warahmatullah... salam eknal dan salam ukhuwah juga, mas. Saya sudah berkunjung dan follow di sana. skli lagi, makasih

Back To Top