Astaghfirullah, Ternyata Aku Buta

Perjalanan kita di dunia ini tak ubahnya seorang pengembara yang telah diberi bekal mutiara, namun entah mengapa ia selalu gagal mengetahui keberadaan butir-butir berharga itu. Ditanyainya semua orang yang melintas, apakah ada yang mengetahui di mana letak mutiara miliknya. Semua orang menunjuk kantong baju milik sang pengembara. Di dalam kantong itulah sebetulnya mutiara itu tersimpan. Namun, karena pandangannya tak sempurna, orang ini tak jua menemukan benda berharga tersebut.

Kebingungan kian mengaduk pikirannya. Dicobanya mengembara sejauh mungkin, bertanya kepada siapa saja yang dipandang lebih berpengalaman, berguru kepada siapa pun ditahbiskannya sebagai orang bijak. Semua ia lakukan demi mengetahui di mana letak mutiara, yang seharusnya bisa ia lihat. Semua guru dan ahli bijak itu pun selalu memberi isyarat yang sama; menunjuk kantong baju sang pengembara. Namun, lagi-lagi pengembara itu gagal melihat mutiara yang sebetulnya berada begitu dekat dengannya.

Akhirnya, orang ini kelelahan dalam pengembaraannya. Ia benar-benar putus asa. Bahkan, tak percaya lagi kepada siapa pun. Tidak kepada guru, orang bjiak, atau lainnya.

“Mereka semua telah membohongiku. Mana ada mutiara itu?! Sama sekali aku tidak menemukannya!” pekiknya, putus asa.

Dalam keputusasaan, ia pun rebah berpadu dengan tanah. Tiba-tiba terlihat benda kecil berkilauan yang menggelinding dari kantong bajunya. Seketika itulah sang pengembara menyadari “kebutaannya” selama ini. Ternyata, selama ini penglihatannya tertutup dari benda yang sebenarnya sudah ada dalam genggaman.

Itulah gambaran kelemahan kita dalam mengenali Allah. Dan, mutiara itu sejatinya adalah ruh yang senantiasa menuntun dan mengingat-Nya. Sesungguhnya, Allah begitu dekat, namun kita menganggap-Nya jauh. Allah selalu memberikan berkah dalam setiap napas yang kita embuskan, namun seringkali kita tak pernah mau memperhatikannya.

Allah swt menampakkan cinta-Nya dalam berbagai hal di sekitar kita, namun kita bagai memejamkan mata. Mari kita temukan mutiara itu, dengan mengaktifkan ruhani untuk selalu mengingat Allah swt di tengah ujian demi ujian yang ditempakan kepada kita.
Tag : Hikmah
Comments
11 Comments
11 Komentar untuk "Astaghfirullah, Ternyata Aku Buta"

orang yang telalu fokus pada hal yang di carinya tidak akan menemukan apa yang ada di dalam dirinya, yang di cari selalu di luar. makanya ia ga mudah menerima kebahagiaan yang ada pada dirinya. seperti mutiara tersebut

seharusnya kita lebih bersukur atas apa yang kita miliki daripada mencari nya dari orang lain. nice motifasi

iya ya, kandang kita sering lupa.

Peduli AlamKu @ Sangat... sangat... setuju dengan komentar kawanku "Peduli AlamKu". Ketika kita mencari, memang selalu fokus ke luar. Jadinya sering tdk sadar bahwa yg dicari ada di dalam. Makasih tambahan motivasinya, Sobat.

cerita anak kost @ Benar, Kawan. Duh, betapa lalai, abai, dan lalimnya kita.

inspiratif, Gus.
kita memang sering dibutakan oleh sesuatu yang fana. :)

Cyberguru @ Makasih atas kunjungannya, Kawan. Begitulah kenyataan tentang kita.

Salam produktif, mas. Makin keren aja karya2 novelnya. aku suka

wah mantap... ternyata Allah memang dekat sekali dengan kita

Mas Huda @ Benar sekali, mas. Guru saya pernah berkata dgn mengutip firman Allah swt: "Wa idza saalaka ibadi 'anni fa inni qorib...(Dan bila hamba-hambaku menanyakanmu tentang Aku, bahwasanya Aku dekat)." Makasih atensinya, Mas.

Ya Om,Setuju...
Terkadang kita tidak memperhatikan hal yang sebetulnya dekat dengan kita...
Kita justru mencarinya jauh ke sana ke mari, tanpa menyadari betapa dekatnya apa yang kita cari itu...hehehe

Eko Muryanto @ Tapi, untuk urusan sepeda onthel, kemarin aku justru sengaja mencarinya yang jauh sampai Pakem. Biar bisa olahraga beneran. walaupun yg dekat jg ada. hehe...

Back To Top