Pengusaha Tanpa PIN BB

Dengan uang yang pas-pasan, tidak mungkin dia bepergian naik ojek apalagi taksi. Cukuplah dua kakinya yang masih kuat dan tegap itu menuntunnya menuju tempat-tempat yang dituju. Kali ini, tempat yang dituju adalah kantor DPR di kompleks pusat pemerintahan kabupaten.

“Selamat siang, Pak,” sapanya kepada seseorang yang mengenakan jas safari dan berdasi.

“Selamat siang,” jawab lelaki berdasi itu singkat.

“Maaf, Pak, Bapak anggota dewan, ya?”

Lelaki berdasi itu kembali menjawab, “Dari penampilanku kan sudah bisa ditebak bahwa aku ini anggota DPR.”

Buru-buru lelaki pejalan kaki itu menukas, “Oh, maaf, Pak, saya tidak memperhatikan pakaian dan penampilan Bapak.”

Sang anggota dewan mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran lelaki yang berdiri di hadapannya. “Sudahlah, buruan katakan apa yang ingin kamu katakana ke anggota dewan. Karena aku masih ada acara lain yang lebih penting.”

“Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Nama saya Sugiharto. Kedatangan saya kemari adalah mau mencari pekerjaan, Pak. Jadi klining serpis, tukang potong rumput, atau tukang cuci mobil anggota dewan juga tidak apa-apa, Pak,” terang lelaki pejalan kaki, yang ternyata bernama Sugiharto.

“Kamu mau jadi cleaning service di sini?” kata sang anggota dewan.

“Iya, Pak,” jawab Sugiharto singkat.

“Punya PIN BB, tidak?”

“Aduh, Pak! Bapak kan bisa lihat sendiri penampilan saya, mana mungkin saya punya PIN kaya’ begituan,” jawab Sugiharto lugas.

Mendengar jawaban itu, sang anggota dewan sontak terkekeh, lalu melemparkan tanggapan sinis, “Namamu itu Sugiharto, yang dalam bahasa Jawa artinya kaya duit, tapi kok miskinnya minta ampun. PIN BB saja tidak punya.”

Mungkin tidak puas mengumpat Sugiharto, sang anggota dewan kembali melanjutkan ceramahnya, “Biarpun hanya cleaning service, kalau mau kerja di sini ya harus punya PIN BB. Ini demi kelancaran koordinasi antara seluruh bagian di gedung dewan ini. Juga demi menjaga martabat dan harga diri kami sebagai anggota dewan. Apa kata dunia kalau anggota dewan dan staf-stafnya tidak mempunya PIN BB.”

Karena menyadari ketidakpunyaannya, Sugiharto bergegas meninggalkan gedung dewan itu untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Seperti biasa, tetap dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, ia teringat bahwa di dalam saku celananya masih ada uang Rp 100.000.- Segera dikeluarkannya uang itu. Mungkin hanya itulah harta kekayaan yang ia miliki saat ini.

“Aku harus bisa berdaya dan berkembang dengan uang ini!” tekad Sugiharto, seraya menggenggam erat selembar uang seratus ribu yang sudah kumal itu.

Lalu dibelanjakanlah uang itu untuk membeli sayur-sayuran. Sayur-sayuran yang jumlahnya masih belum banyak itu kemudia ia jajakan dengan berkeliling kampung. Hari pertama berjualan, ia untung bersih sebesar seratus ribu. Hari kedua untung bersih sebesar 300.000. Karena keuletan, ketelatenan, kesabaran, serta tekadnya yang kuat, setiap hari labanya selalu bertambah lebih dari 100%.

Singkat cerita, hanya dalam dua tahun Sugiharto telah menjadi pengusaha hebat. Kaya raya. Ia tidak lagi berkeliling kampung untuk menjajakan dagangannya. Ia hanya perlu duduk di rumahnya untuk mengatur bisnisnya itu, sementara puluhan karyawannyalah yang bekerja di lapangan dengan menjual sayuran di pasar-pasar dan kampung. Bahkan seluruh super market di kota itu juga mendapatkan pasokan sayuran dan buah-buahan dari perusahaan Pak Sugiharto.

Nama Sugiharto pun seketika terkenal. Pemerintah dan anggota dean lalu sepakat memberikan lencana penghargaan kepada Pak Sugiharto atas keberhasilannya membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran di kabupaten itu.

Penyematan lencana penghargaan pun dilakukan. Ada bupati, wakil bupati, pejabat pemerintahan, juga para anggota dewan yang menyaksikan penyematan lencana itu.

Seorang anggota dewan lalu menghampiri Pak Sugiharto.

“Bapak punya PIN BB?” tanya  sang anggota dewan. “Saya pengen banget bisa terus berkomunikasi dengan Bapak tentang strategi pengembangan bisnis dan usaha. Yah, siapa tahu setelah berhenti dari DPR, saya kan bisa mengikuti jejak Bapak menjadi pengusaha hebat,” ujarnya lebih lanjut.

“Wah, maaf, Pak. Saya tidak punya PIN BB?” jawab Pak Sugiharto.

Sang anggota dewan terbelalak, tak percaya. “Ah, mana mungkin pengusaha sekaya Bapak tidak punya PIN BB?” ucapnya mencoba memastikan.

“Demi Allah, Pak. Saya tidak punya PIN BB. Kalau punya PIN BB, tidak mungkin saya jadi pengusaha seperti sekarang ini, Pak.”

“Maksud Bapak?” sang anggota dewan masih belum paham dengan jawaban Pak Sugiharto.

“Maksud saya, kalau saya punya PIN BB, paling-paling ya cuma jadi cleaning service di gedung dewan. Nggak bakalan jadi pengusaha sukses seperti sekarang.”

!@#$%^&*(^%$#@!


gambar: http://id.ibtimes.com/

Tag : Warna-Warni
Comments
8 Comments
8 Komentar untuk "Pengusaha Tanpa PIN BB"

AQ diajari Kang crne spy jd SUGIHARTO?

@Anonim Hehehe.... Belajarlah kepada Pak Sugiharto. Beliau itu tetangganya Mbok Darmi, sang pengampu majelis taklim angkringan Mbok Darmi. ^_^

SubhanAllah, itulah bukti kebesaran Allah.
Biarpun pernah dihina dan diremehkan, asal orang itu mau giat berusaha n berdoa, pasti akan menuai hasilnya.
artikel yg sangat bagus buat motivasi hidup. thanks.

@kejora Benar sekali sobat, "man jadda wajada" (barangsiapa yang sungguh2 pasti akan berhasil). Tapi, jika sudah berhasil, rendah hati adalah sikap yg terbaik. benar begitu kan sobat?

bagus bgt mas ....
kerennn....
menambah motivasi untuk selalu semangat .....

pu-jhie adja.. @ Terima kasih kembali, Mbak. Dunia memang berputar, dan Allah-lah yang berkuasa memutarnya.

waoo . . . ini dia yang namanya Dream to be Real, jika kita percaya pada impian dan pastinya dibarengi dengan berdo'a dan ikhtiar pasti semua akan berjalan baik dan suatu hari nanti mimpi kita akan menjadi nyata . . .

Sinna Saidah Az-Zahra @ Barangkali inilah pentingnya kita bermimpi ya, Mbak. Mimpi yg tinggi lalu ditindaklanjuti dgn keseriusan aksi, maka akan berbuah dg hasil nyata.

Back To Top