Motivasi Islami Dosis Tinggi (17) : Hati-hatilah dengan Hati!

Hati adalah tempat cahaya Ilahi, rumah bagi kebenaran yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla. Di dalamnyalah kesejahteraan yang sejati bersemayam. Orang-orang yang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya, dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenal diri dan Tuhannya.

Karenanya, siapa pun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan qalbunya, dia akan jahil (bodoh) dalam mengenali dirinya sendiri, lebih-lebih lagi mengenal Allah Azza wa Jalla.

Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu bagaimana menyikapi hidup ini, apalagi merasakan indahnya hidup. Demikian pula, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan dia akan tersesat dan terjauh dari-Nya di tengah kegelapan hatinya.

Kerinduan bertemu Allah swt. adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapa pun yang menempatkan qalbunya di sisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tenteram. Dan siapa pun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Saudaraku, qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana besi, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah takwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga, maka makanan dan minumannya adalah mengenal dan mahabbah (cinta) kepada Allah swt.


Untaian Mutiara Kata
1.    Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati manusia yang keras. (Hamka)

2.    Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya, dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (Hasan Al-Bashri)

3.    Mohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah), maka seketika mungkin untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling. (Uwais Al-Qarni)

4.    Berdzikirlah seribu kali dengan hati, dan satu kali dengan lisan. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

5.    Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat, dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia, maka nasihat susah masuk kepadanya. (Malik bin Dinar)

6.    Orang yang tidak menguasai matanya, maka hatinya tidak berharga. (Ali bin Abi Thalib)

7.    Kaum muda membuat sejarah dengan hati mereka. Cendekiawan membuat sejarah dengan akal pikiran mereka. Orang arif membuat sejarah dengan jiwa mereka. Apabila hati, akal, dan jiwa saling menunjang untuk membuat sejarah, pasti sejarah tak akan pudar sinarnya dan tak akan padam obornya. (Dr. Mustafa Assiba’i)

8.    Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk kalian. Allah hanya melihat kepada hati dan amal kalian. (Sabda Nabi saw.)

9.    Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya akan saling mengasihi. Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan menghilangkan unek-unek kedengkian di dalam hati. (Sabda Nabi saw.)

10.Rendah hati itu tidak akan menambah derajat seseorang kecuali keluhuran. (Sabda Nabi saw.)

11.Tiada shalat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyuk. Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri dari perbuatan yang sia-sia. Tiada kebaikan bagi pembaca Al-Qur’an tanpa mengambil pengajaran darinya. Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’. Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling menyayangi. Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki. Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya. Siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara’. Sedangkan orang yang tidak wara’ itu berarti hatinya mati. (Ali bin Abi Thalib)

12.Hati manusia bagaikan binatang liar. Barangsiapa berusaha menjinakkannya, pasti akan mendekat (luluh) juga. (Ali bin Abi Thalib)

13.Lidah orang berakal itu di belakang hatinya, sedangkan hati orang tolol itu berada di belakang lidahnya. (Ali bin Abi Thalib)

14.Ciri orang yang berma’rifat kepada Allah adalah menepati seruan Allah, hatinya senantiasa bersih, dan amalnya baik bahkan selalu bertambah. (Dzun Nun Al-Mishry)

15.Lima hal yang menjadi penawar hati, yaitu bergaul dengan orang shalih, membaca Al-Qur’an dan mengangan-angan maknanya, sedikit makan, qiyamul lail (bangun untuk shalat malam), dan bermunajat kepada Allah di waktu tengah malam. (Abdullah Al-Inthaqi)

16.Berzikir kepada Allah adalah penawar hati. (Sabda Nabi saw.)

17.Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan. Dan kegelapan hati adalah pangkal penderitaan jiwa. (Bediuzzaman Said Nursi)

18.Musuh kita yang paling jahat adalah hati kita. Tetapi, kawan kita yang paling baik pun adalah hati kita. (Dr. HM. Tuah Iskandar)
19.Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Bila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun, bila segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati. (Sabda Nabi saw.)

20.Pandai bertutur kata tanpa diiringi amalan hati takkan berarti apa-apa. Perjalanan sejati adalah perjalanan hati, dan perbuatan yang sejati adalah perbuatan yang berarti. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

21.Pezikir sejati adalah orang yang berzikir kepada Allah dengan hatinya. Orang yang berzikir hanya dengan lisan (tanpa melibatkan hati), sebenarnya dia tidaklah berzikir. Sebab, lisan hanyalah pembantu dan pengikut hati. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

22.Orang yang berpura-pura perbuatannya bersih tetapi hatinya kotor, berzuhud dalam hal mubah tetapi melakukan perbuatan haram, sama saja dengan merusak agama dan ia sama sekali tidak wara’. Kezuhudan dan ketaatannya hanya pura-pura. Lahirnya bagus tapi batinnya rusak. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

23.Jangan pernah berhenti mendengar nasihat, karena hati akan buta bila kehilangan nasihat. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

24.Ada empat hal yang dapat menjaga hati: pertama, menjaga makanan yang dimakan; kedua, meluangkan waktu untuk ketaatan; ketiga, memelihara kehormatan; keempat, meninggalkan perkara yang membuatmu lupa kepada Tuhan. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

25.Menuruti syahwat dapat mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, memperbanyak tidur dan lupa, membakar ambisi, dan memperpanjang angan-angan. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

26.Kata-kata yang keluar dari hati, akan masuk pula ke dalam hati. Tetapi, kata-kata yang hanya keluar dari lidah, tidaklah akan sampai ke dalam hati. Hanya sampai di kulit telinga. (Amir bin Abdul Kais)

27.Rendah hati adalah kamu keluar dari rumah, lalu berjumpa dengan seseorang setelah itu kamu yakin bahwa orang tersebut lebih baik dari pada kamu. (Hasan Al-Bashri)

28.Lidah orang yang berakal ada di balik hatinya. Bila ia hendak berbicara, ia berpikir terlebih dahulu. Bila bermanfaat, maka ia berbicara. Bila membahayakan, maka ia diam. (Hasan Al-Bashri)

29.Rasa takut kepada Allah (Khauf) harus lebih dominan daripada harap (raja’), sebab apabila harap lebih dominan daripada takut, hati akan rusak. (Hasan Al-Bashri)

30.Mereka menyembunyikan kesombongan di dalam hati, dan memamerkan kerendahhatian pada baju mereka. Demi Allah, dengan pakaian seperti itu, salah satu dari mereka lebih sombong daripada kesombongan pemakai syal sutra. (Hasan Al-Bashri)

31.Hati adalah bejana Allah di dunia. Andaikan manusia mengisinya dengan Allah dan hari akhirat, maka hati itu menjadi bening dengan makna-makna kalam Allah dan ayat-ayat-Nya, lalu pemiliknya akan mendapatkan hikmah yang mengagumkan. (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

32.Selagi badan sakit, tak ada gunanya makanan dan minuman. Begitu pula hati yang sakit karena syahwat, maka tak ada gunanya nasihat dan peringatan. (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

33.Syirik, dusta, dan riya’ adalah pohon dalam hati. Buahnya di dunia adalah ketakutan, kekhawatiran, kesusahan, kesempitan dada, dan kegelapan hati. Buahnya di akhirat adalah adzab di neraka. (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
34.Carilah hatimu di tiga tempat; saat membaca Al-Qur’an, di majelis zikir, dan saat-saat menyendiri. Jika engkau tidak mendapatkannya maka mohonlah kepada Allah agar Dia mengaruniakan kepadamu satu hati lagi, karena engkau sudah tidak memiliki hati lagi. (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

36.Senyuman adalah gambaran isi hati yang menggerakkan perasaan dan memancar pada wajah seperti kilatan cahaya, seakan berbicara dan memanggil, sehingga hati yang mendengar akan terpikat. (Abbas As-Siisiy)

37.Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaan dia. (Hasan Al-Bashri)

38.Menangis itu bukanlah dengan tangisan mata (saja), tetapi dengan menangisnya hati. Sungguh, ada seseorang yang terkadang kedua matanya menangis sementara hatinya mengeras. Karena tangisan seorang munafik adalah dengan kepalanya, bukan dengan hatinya. (Fudhail bin ‘Iyadh)

39.Potensi ruhiyah, sentuhan rasa, kecintaan pada kebaikan, serta perasaan yang lembut itu tidak akan muncul hanya sekadar dengan peringatan dan perintah. Sadarilah, bahwa yang dapat membangkitkannya adalah dengan sentuhan-sentuhan hati yang penuh kasih sayang dan kerinduan yang sangat dalam terhadap pasangan seakidah yang melekat di hati. (Abbas As-Siisiy)

40.Senyum yang hangat memiliki pengaruh yang besar dalam menggerakkan hati dan menghidupkan nurani. (Abbas As-Siisiy)

41.Penampilan yang memukau dengan sentuhan sopan santun dan perasaan yang lembut merupakan faktor penggerak dalam memikat hati dan menyentuh perasaan. (Abbas As-Siisiy)

42.Sesungguhnya jalan menembus hati dalam dakwah tidak hanya bergantung pada pengajian, ceramah, atau khutbah. Tetapi, dapat menggunakan cara-cara yang menyenangkan hati, namun tidak menyimpang dari ketentuan syar’i. (Abbas As-Siisiy)

43.Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu, melainkan Allah akan menampakkannya melalui raut mukanya dan ketergelinciran mulutnya. (Utsman bin ‘Affan)
Tag : Hikmah
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Motivasi Islami Dosis Tinggi (17) : Hati-hatilah dengan Hati!"

Back To Top