Tradisi Ruwahan “Diuri-uri” di Bantul

Tradisi Ruwahan “Diuri-uri” di Bantul
Senin, 27 Juli 2009 06:56
Bantul, NU Online

Sya’ban atau Ruwah (Jawa) merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Karena, pada bulan inilah persiapan-persiapan menjelang Ramadhan dilakukan, baik persiapan jasmani maupun ruhani, fisik maupun spiritual.

Memasuki bulan istimewa ini, beberapa daerah di Bantul menggelar tradisi sosial-keagamaan yang disebut Ruwahan. Disebut Ruwahan karena dilakukan di bulan Ruwah atau Sya’ban. Tradisi ini telah diuri-uri (dilestarikan) secara turun-temurun.

Ruwahan memiliki rangkaian acara yang hampir sama dengan kenduri arwah atau tahlilan, yaitu dibuka dengan bacaan surat Yasin secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan bacaan kalimah thayyibah atau tahlil, dan diakhiri dengan doa untuk para leluhur.

“Ruwahan digelar setiap malam selama sebulan penuh di bulan Sya’ban. Biasanya diadakan di masing-masing RT dan dihadiri oleh seluruh warganya terutama bapak-bapak,” terang H. Maryadi, kepala dukuh Ngeblak Wijirejo Pandak Bantul, kepada kontributor NU Online, Ahad (26/7).

“Pada minggu terakhir di bulan Ruwah, kemudian dilaksanakan tradisi Nyadran atau ziarah massal,” lanjut Maryadi.

H Nur Iskandar, pengurus MWCNU Kecamatan Pandak, dalam kesempatan yang sama menambahkan bahwa tujuan utama tradisi ini adalah untuk menjalin ukhuwah antarwarga, mendoakan arwah para leluhur, serta mengintensifkan persiapan-persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

“Tujuan terakhir inilah yang membedakan antara Ruwahan dengan kenduri atau tahlilan biasa,” tandas Nur Iskandar.

Ia mengatakan, persiapan yang dimaksud adalah dengan menciptakan suasana relijius di tengah masyarakat agar lebih dekat kepada Allah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga, serta menyiapkan bekal keilmuan tentang Ramadhan menyangkut fikih puasa maupun fadhilah amalan-amalan di bulan Ramadhan.

Dalam pantauan kontributor NU Online, penjelasan Nur Iskandar memang berdasar, karena terbukti di akhir acara Ruwahan diisi dengan siraman ruhani atau mau’izhah hasanah dan dilanjutkan dengan tanya jawab seputar tema-tema Ramadhan. (irh)
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Tradisi Ruwahan “Diuri-uri” di Bantul"

Back To Top