Resensi: Menggapai Haji Mabrur


Judul Buku : Hajinya Para Kekasih Allah (Menjadi Haji Mabrur)
Penulis : Syaikh Muhammad Zakariyya
Penerjemah : Ali Mahfudzi
Penerbit : Citra Media, Yogyakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : 382 halaman

Fenomena hajiluna adalah salah satu contoh keliru dalam berhaji. Hajiluna yang berarti "haji huluna" (bahasa Sunda; artinya haji sebatas kopiah yang menempel di kepala) merupakan fenomena eufemistik bagi para haji yang tinggal gelar tanpa memiliki implikasi sosial sedikit pun.

Selaras makna etimologis haji yang berarti al-qashdu (menuju, lurus, sederhana, dan indah), Van Gannep (1960) menengarai prosesi haji sebagai serangkaian ritus keagamaan (rites de passage) yang menjadi sarana perubahan efektif seorang individu muslim dari posisi tertentu sebelumnya ke posisi yang lebih tinggi derajatnya; dari sekadar orientasi individual menuju misi sosial, dari kemewahan menuju ke kesederhanaan, dan dari "kebengkokan" menuju kehidupan yang lurus.

Predikat prestisius yang selalu diidamkan adalah haji mabrur. Bagi penyandang gelar ini, surga balasannya. Di kehidupan dunia maupun di alam keabadian kelak, Tuhan pun akan selalu memanjakannya. Namun, untuk meraih gelar itu dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan sebelum, selama, dan sesudah berhaji.

Buku Hajinya Para Kekasih Allah (Menjadi Haji Mabrur) yang ditulis Syaikh Muhammad Zakariyya ini bertujuan membuka pemahaman umat Islam tentang makna haji secara komprehensif, kaya dan mencerahkan. Di samping juga memberikan panduan-panduan praktis dan lurus dalam menunaikan ibadah haji sesuai ajaran Nabi SAW dan para kekasih Tuhan lainnya.

Buku setebal 382 halaman ini mengupas tuntas beberapa hal penting tentang haji: hakikat haji, tata cara dan etika berhaji, serta kisah-kisah penuh hikmah para kekasih Allah yang "bermesraan" dengan-Nya dalam berhaji. Pada muaranya, semua tema-tema itu bertujuan memberi panduan bagaimana menjadi haji yang mabrur, yaitu haji yang tidak sekadar memenuhi rukun dan syarat secara teknis fiqhiyah, namun berimplikasi juga pada peningkatan kualitas kesalehan baik individual maupun sosial, vertikal maupun horizontal.

Buku ini menjadi semakin kaya dengan didedahnya dimensi historis kota Mekkah dengan Kakbah sebagai simbol kebesarannya, dan Madinah dengan Masjid Nabawi sebagai simbol kekuatannya, lengkap dengan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki kedua kota bersejarah tersebut baik dalam teropongan Tuhan maupun manusia.

Bagi sebagian kalangan, buku terjemahan barangkali amat menyebalkan. Karena (biasanya) bahasanya cenderung kaku, kurang "melokal", kurang komunikatif, dan sebagainya. Tapi, anggapan ini sama sekali tidak berlaku bagi Hajinya Para Kekasih Allah (Menjadi Haji Mabrur) yang diterjemahkan secara apik, segar, dan "melokal" oleh Ali Mahfudzi, sehingga enak dibaca dan mudah dicerna.

Tak berlebihan apabila buku ini ditempatkan dalam deretan buku-buku "wajib" setiap muslim, utamanya para penyandang atau calon penyandang gelar haji dan hajah demi menggapai kemabruran haji yang hakiki.

----------------------------------------------
Tulisan ini dipublikasikan di harian Media Indonesia pada Sabtu, 10 November 2007.
Tag : Pustaka
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Resensi: Menggapai Haji Mabrur"

Back To Top