Resensi: Menjamu Ramadan Menggapai Lailatul Qadar



Judul Buku : Puasa Ramadhan dan I’tikaf untuk Meraih Lailatul Qadar
Judul Asli : Fadha’il Ramadhan
Penulis : Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi
Penerjemah : A. Abdurrahman Ahmad, dkk.
Penerbit : Citra Media, Yogyakarta
Cetakan : I, Sya’ban 1428 H / Agustus 2007
Tebal : 127 halaman

Bulan suci Ramadhan datang kembali. Rasulullah SAW dan para sahabat, selalu menyambut kedatangannya dengan ucapan: "Marhaban yaa Ramadhan= Selamat datang wahai Ramadhan."

Rasulullah, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti jejak risalah Islamiyah sampai akhir zaman, selalu menyambut kedatangan bulan suci itu dengan penuh suka cita, dan menangis saat ditinggalkannya.

Saking rindunya dengan Ramadhan, sejak Rajab Rasulullah selalu memperbanyak berdoa: "Ya Allah berkahilah hidup kami di bulan Ramadhan, sejak Rajab dan Syakban. Dan sampaikanlah usia kami hingga Ramadhan".

Inilah bulan yang selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Pada bulan ini mreka menjalankan ibadah puasa. Pada bulan ini, Al−Qur'an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dengan yang batil, diturunkan untuk seluruh umat manusia melalui Muhammad putera Abdullah. Di bulan ini, dilipatgandakan pahala ibadah mereka. Di bulan ini pula, rahmat dan ampunan Allah dibuka seluas−luasnya, dan pintu neraka ditutup serapat−rapatnya.

Tak hanya Al-Qur’an yang diturunkan di bulan itu, kitab-kitab suci lainnya banyak diturunkan Allah pada bulan tersebut. Ibrahim menerima shuhufnya (lembaran sucinya) pada 1 atau 3 Ramadhan. Dawud menerima Zabur pada 12 atau 18 Ramadhan. Musa menerima Taurat pada hari ke-6, Isa menerima Injil pada hari ke-12 atau ke-13. (halaman 14)

Dari paparan itu dapat diketahui hubungan yang erat antara kitab-kitab Allah dengan Ramadhan. Oleh karena itu, sudah selayaknya bulan suci Ramadhan taak hanya diisi dengan puasa namun juga memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ini telah dicontohkan Nabi SAW, di setiap Ramadhan beliau selalu tadarus Al-Qur’an dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Sesuai judul aslinya, Fadha’il Ramadhan yang berarti keutamaan Ramadhan, buku ini memang dihadirkan secara khusus untuk mendedah keistimewaan dan keutamaan bulan penuh berkah itu agar umat Islam menjamunya dengan baik dan penuh suka cita.

Sejatinya, teramat banyak sabda Nabi yang berkisah tentang keistimewaan Ramadhan. Hanya saja, sebagai buku kecil yang bersifat praktis tentu tidak akan menyuguhkan semua hadis itu. Hanya dua puluh hadis inti yang disajikan penulis lengkap dengan jabarannya yang praktis dan mudah dicerna, sehingga tidak keliru dijadikan panduan selama menjamu Ramadhan.

Ramadhan menjadi kian istimewa dan utama dengan adanya malam seribu bulan atau malam Lailatul Qadar. Betapa beruntung orang yang dapat memperoleh kesempatan beribadah dengan sungguh-sungguh pada malam itu, karena berarti ia telah mendapatkan pahala beribadah selama seribu bulan atau 83 tahun 4 bulan.

Apa sejatinya malam seribu bulan itu, dan kapan terjadinya? Dalam hal ini, banyak pendapat yang bersembulan untuk menjawab pertanyaan itu. Secara detail buku ini akan menjawabnya dari beberapa versi atas ragam pendapat itu.

Lailatul Qadar memang merupakan otoritas dan rahasia Allah. Tapi, setidaknya beberapa riwayat hadis tentang itu dapat kita jadikan acuan untuk "menghadang" datangnya Lailatul Qadar. Ada yang menyebut malam-malam ganjil mulai tanggal 21, ada pula yang menyebut tanggal 17, dan sebagainya.

Inilah hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar agar manusia selalu memburunya di setiap malam di bulan suci Ramadhan dengan qiyamul lail, zikir, membaca Alquran, dan sebagainya.

--------------------------------
Tulisan ini dipublikasikan di harian Suara Merdeka (Minggu, 16 September 2007) dan Batam Pos (Minggu, 16 September 2007).
Tag : Pustaka
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Resensi: Menjamu Ramadan Menggapai Lailatul Qadar"

Back To Top