In Memoriam KH. Zainal Arifin Thoha

Pagi itu, seperti biasa, saya telusuri halaman demi halaman surat kabar harian lokal. Tidak saya baca
seluruh isinya. Hanya sekilas pada judul dan gambar, sebelum nantinya saya pilih satu atau beberapa berita dan artikel yang menarik untuk dibaca tuntas.

Dalam penelusuran itu, mendadak mataku berhenti menggerayang, hati pun berbinar manakala menjumpai gambar besar sosok karismatik berkopiah putih dan berkaca mata. Dialah figur yang sedang lekat di hati saya, KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari sekaligus dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sastrawan, dan juga penulis produktif pengharum Jogja. "Pasti ada wacana dan ide-ide baru darinya," pikirku girang menilai gambar tersebut.

Kegiranganku mendadak lenyap, mata pun terbelalak seakan tak percaya manakala mengeja judul di atasnya, "Penyair yang Sufi itu Telah Tiada". Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya akan kembali. Rabu malam, 14 Maret 2007, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di usia 35 tahun. Esok harinya, jenazah dibawa ke kota kelahirannya Kediri untuk dimakamkan.

Memang beliau tidak lahir di Jogja, namun tetap merupakan ‘putera Jogja’ karena sumbangsihnya untuk kota ini yang tidak bisa dibilang kecil. Wajar (bahkan menjadi keniscayaan) jika masyarakat Jogja merasa sangat kehilangan sosok religius, populis dan bersahaja itu. Teramat banyak kontribusi beliau untuk Jogja; pemikirannya, kesalehan sosialnya, komitmennya pada budaya, pendidikan dan dunia keilmuan, juga kepeduliannya kepada masa depan anak bangsa.

Kesedihan kian menyala, karena sehari sebelumnya dalam Forum Diskusi dan Kajian Lereng Merapi (Fordis KaLeM), kami sempat memperbincangkan maziyah (keistimewaan) beliau dalam menghadirkan model pesantren lain daripada yang lain. Model kepesantrenan dan gaya kekyaian beliau memang unik. Bisa dibilang sangat modern untuk ukuran kebanyakan pesantren, yang kerap dilekati label ‘tradisional’ dan otoriter.

Tidak seperti lazimnya pesantren-pesantren lain, Hasyim Asy’ari tampil dalam wajah pesantren (salaf) yang sederhana dan tetap teguh mempertahankan tradisi salaf al-shalih sebagai ruh utamanya. Namun, sangat modern dalam arah pandang dan paradigma berpikir. Tak mengherankan, lembaga ini mampu memperlihatkan ketangkasannya menyikapi akselerasi zaman secara elaboratif. Inilah yang tidak dimiliki pesantren-pesantren lain.

Dari rahim pesantren ini pula lahir penulis-penulis muda produktif yang mengusung panji ‘Komunitas Kutub’. Mereka adalah santri mahasiswa sang Guru Zainal. Hampir setiap hari karya cemerlang penulis-penulis muda itu menghiasi halaman surat kabar, baik lokal maupun nasional.
Lebih menakjubkan, para mahasiswa itu berhasil di-gula wentah (digembleng) Kyai muda Zainal untuk mandiri. Dengan dibekali keterampilan menulis dan menganalisis (tentunya juga keterampilan lain), mereka dapat terus studi, berkreasi dan berprestasi tanpa menyandarkan lagi pada uluran tangan orangtua.

Menghidupkan Tradisi Literat
Berkisah tentang Gus Zainal, penulis tergelitik untuk menengok kembali catatan Ahmad Faqih, Koordinator Majlis Tarbiyah Watta’lim Pesantren Mahasiswa Al Aqobah Jombang Jawa Timur, yang dirilis oleh harian nasional Republika 24 November 2006. Dalam catatannya, Faqih merasa prihatin dengan kecenderungan kyai atau gus di masa kini yang beralih profesi dari cultural broker (makelar budaya) menjadi political broker (makelar politik) yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan dan duit. Akibatnya, tak mengherankan bila pesantren belakangan ini cenderung kering dari sentuhan buku dan tulisan, karena para kyai dan ustadz (juga gus) tidak lagi produktif menulis buku dan karya-karya genuine. Kalau pun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari, jauh dibanding kyai yang jadi politisi.
Membaca tulisan Faqih itu saya bergumam, "pastilah di antara jumlah kecil yang dapat dihitung dengan jari itu adalah Gus Zainal. Bahkan dari tangan beliau bisa lahir banyak penulis baru yang tak kalah produktif." Saya kira, apa yang saya gumamkan ini tidak berlebihan, karena memang demikian adanya.

Oleh itulah, Jogja (juga pesantren) jangan diam berpangku tangan membiarkan kepergian beliau tanpa menjadikannya teladan untuk melakukan estafeta misi budaya, sosial, agama dan keilmuan. Sungguh ironis, jika Jogjakarta yang berjuluk Kota Pelajar menjadi kehilangan daya kreativitasnya dalam menulis hanya karena tergerus ingar bingar dan euforia kehidupan.

Pun bagi pesantren, yang selama ini terkesan menjaga jarak secara berseberangan dengan segala bentuk aktivitas yang dipandang profan, harus menghidupkan kembali tradisi literat (menulis, juga membaca) di lingkungannya. Jika kita tilik kembali masa Nabi hingga Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, kejayaan Islam tak bisa dilepaskan dari perkembangan baca tulisnya. Bahkan secara khusus al-Quran juga mengingatkan urgensi keduanya (menulis dan membaca) dalam surat Al-‘Alaq (96) dan Al-Qalam (68).

Keikhlasan Sang Sufi
Ketelatenan dan keikhlasannya mencetak generasi mandiri, berkeilmuan, dewasa, dan berkepribadin, patut ditiru oleh semua pihak. Terbayang dalam pikiran saya, seandainya pemimpin-pemimpin di negeri ini memiliki jiwa pengabdian yang tinggi pada kemajuan bangsa sebagaimana Gus Zainal, tentulah negara ini benar-benar akan mencapai kejayaan. Lihatlah, bagaimana konsistennya pada masa depan generasi bangsa. Sebagai guru dan kyai, beliau mahir memberikan ‘kail’ (bukan ‘ikan’) untuk masa depan murid dan santrinya. Dan itu diberikannya dengan ikhlas. Ya, ikhlas itulah bukti kesufiannya. Aprinus Salam, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, membenarkan itu. "Dia adalah guru sufi dan sahabat yang baik," komentarnya.

Demi eksistensi dan kemajuan (budaya), Jogja sangat membutuhkan Zainal-Zainal baru. Prof Dr Suminto A Sayuti, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNY, berkomentar, "Meninggalnya penyair, kyai muda Zainal, Yogya kehilangan inspirator, motivator bersastra, seni dan budaya yang enerjik."
HM. Nasruddin Anshoriy Ch, Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri, termasuk yang merasakan kesedihan itu. Karena baru-baru ini mereka berdua sedang ‘intim’ menulis buku bersama, judulnya Berguru pada Jogja. Namun kini, Jogjalah yang harus berguru pada Gus Zainal. Tentang segala hal; kearifannya, kebersahajaannya, keikhlasannya, dedikasinya, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisannya di media massa dan buku-buku karyanya, kita akan mempelajari semua itu.

Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu ‘anhu, waj’alil jannata matswahu: Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah, hapuskanlah segala dosanya, dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggal abadinya. Amin

-------------------------------
Tulisan ini dipublikasikan di Koran Merapi, 22 Maret 2007, dan surat kabar harian Bernas, 24 Maret 2007.

Tag : Ulama
Comments
2 Comments
2 Komentar untuk "In Memoriam KH. Zainal Arifin Thoha"

Terimakasih untuk saudaraku yang mengenang Guru Zainal. Dia adalah guru banyak orang yang ingin sukses hidup dunia akhirat. Dia beruntung berumur panjang, meski jasadnya kini berada dalam alam barzakh. Dia telah memilih jalur hidup yang kaya, kaya ilmu, banyak murid, dan insya Allah anak yang shaleh shalehah. Begaul dengannya, banyak pelajaran yang mencahaya. Dia adalah teman, sekaligus guru banyak orang dalam banyak hal. Al Marhum insya Allah masih memetik buah dari amal jariyahnya. Ya Allah pemilik hidup ini, jadikanlah murid muridnya menjadi orang yang tidak lupa mensucikanMu dalam segala tulisan mereka. Dan milikilah Al Marhum Guru Zainal Arifin Thoha dalam ridhoMu. Amin


informasi menarik dan bermanfaatnya,
semoga sukes aja yah!! Salm hangat untuk keluarga yang berada di samping anda yah Terimaksih atas informasinya..

Back To Top