Ketika Fatimah Berseteru dengan Aisyah

Sisi Manusiawi Rasulullah dalam Berumah Tangga


Telah menjadi tradisi Rasulullah apabila memiliki suatu acara makan-makan, beliau akan menyisihkan makanan itu untuk tetangga, kerabat, dan para sahabat. Tak terkecuali beliau menyisihkan pula untuk sahabat-sahabat mendiang istri pertamanya, Khadijah.

"Aisyah," seru beliau kepada istri termuda dan tercantiknya, "sisihkan beberapa potong daging untuk sahabat-sahabat Khadijah."

Mendengar nama Khadijah disebut oleh Rasulullah, sontak Aisyah bersungut-sungut. Jengkel. Jeuleus binti cemburu. Sangat manusiawi, bukan? Kalau tidak percaya bahwa cemburu seperti itu sangat manusiawi, bergurulah kepada Suhu Tanduk, konsultan Asosiasi Suami Sayang EMpat Istri (ASSEMI).

Begitu pula yang dirasakan Aisyah saat itu. Cemburu tingkat tinggi terhadap Khadijah karena namanya selalu disebut oleh Rasulullah.

"Apakah Kanda tidak bisa menerima dan mencintai saya sebagai ganti dari Khadijah? Apakah aku tidak lebih istimewa dari Khadijah sampai-sampai namanya selalu Kanda sebut di depan saya?"

Anda tentu tahu, sederet kata yang terjalin menjadi kalimat panjang itu adalah ungkapan kecemburuan Aisyah terhadap almarhumah Khadijah, istri pertama Rasulullah. Rasulullah menyambut kalimat panjang itu dengan senyum. Tetapi, kecemburuan justru Aisyah semakin melonjak.

"Khadijah itu tua dan tidak cantik, sementara aku cantik dan masih muda. Apakah Kanda tidak bisa melupakan wanita tua itu dan menempatkan aku di posisinya di hati Kanda?" demikian kurang lebih kalimat cemburu yang menyembur dari bibir Aisyah.

Ucapan itu ternyata terdengar oleh Fatimah, putri Khadijah. Sebagai anak tentu tidak terima nama ibundanya direndahkan dan disebut secara tidak baik oleh Aisyah. Terpaksa, akhirnya ia melakukan somasi kepada Rasulullah atas ucapan Aisyah tentang ibundanya.

"Fatimah, putriku, jika kamu tidak terima ibundamu tercinta yang juga istri pertamaku terkasih disebut-sebut secara tidak baik oleh Aisyah, hentikan ia segera," terang Rasulullah.

"Bagaimana aku bisa menghentikannya, Ayah, sementara ia juga istri tercinta Ayah?"

Sembari menebarkan senyuman, beliau berkata, "Hentikan ia dengan bahasa ledekan dan guyonan. Ya, dengan ledekan dan guyonan!"

"Maksud Ayah?"

"Katakan kepada Aisyah, 'bla...bla...bla.. ststststststststststs."

Setelah mendapat memo tersebut dari Rasulullah, Fatimah segera menemui Aisyah.

"Wahai ibu mudaku," seru Fatimah, "kamu adalah istri tercantik dan sangat dicintai oleh ayahku. Tetapi, perlu kamu ketahui, biarpun ibuku tua, janda, dan tidak secantik kamu, dia dinikahi oleh seorang perjaka. Sementara kamu, meskipun cantik, muda, dan berstatus perawan, tetapi dudalah yang menikahimu."

Mendapat serangan "taktis, ledekis, & guyonis" dari Fatimah, bibir Aisyah tak mampu lagi membantah dan berargumentasi. Skak Mat! Menurut versi penerbit Prass Press disebutJurus Ampuh Menaklukkan Kecemburuan Ibu Muda (bukan Menaklukkan Psikotes lho).

Meski dongkol, tetapi serangan itu membuat hati Aisyah geli segeli-gelinya. Lalu tertawa!

Skor 1-1 untuk Aisyah vs Fatimah.
Draw…!

Tag : Rumah Tangga
Comments
8 Comments
8 Komentar untuk "Ketika Fatimah Berseteru dengan Aisyah"

waaaah,, subhanallah, sungguh indah kepribadian rasulullah saw,,,

@akemi takeshita Beliau adalah idola kita, nabi akhir zaman dan rasul teladan. Namun, sebagaimana manusia lainnya, pastilah ada sisi-sisi manusiawi yang ada dalam hidupnya. Salah satunya adalah kisah di atas.

Shalawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepadanya. Allahumma shalli 'ala Muhammad

heheh tapi begitu Aisyah adalah idolaku

Wah, namanya sama: Aisyah. Semua tokoh Islam jadi teladan buat kita, ya, termasuk Aisyah dan Fathimah.

I love muhammad! I love khadijah!
Pengen deh jadi seperti khadijah ;)

Maaf , ya. Bukannya berkata kasar. Saya tdk suka dg aisyah. Saya lebih memilih khadijah

Kita boleh mengidolakan dan terinspirasi dari salah satu keluarga Rasulullah (ahlu baitih), tetapi tidak selayaknya kita mengatakan "aku tidak suka" atau bahkan "aku benci" kepada salah satu keluarga beliau. Aisyah dan semua istri yang lain dicintai oleh Nabi, mengapa kita justru tidak menyukai/mencintai apa yang beliau cintai?
Wal'iyadzu billah...

Back To Top